Jumat, 05 Juli 2013

UAS SEJARAH KEBUDAYAAN



KENDANG PENCA URANG SUNDA
DERI PRIANA
Gendang penca atau kendang penca satu seni yang tidak terlepas dari seni pencak silat  ..ya kendang penca yang nasibnya makin tersisihkan bahkan bisa di bilang barang langka terlebih buat anak-anak muda sekarang padahal kendang pencak warisan tak ternilai dari para karuhun/leluhur sunda yang merupakan satu kesenian yang harus di jaga dan di lestarikan .. tapi nasibnya malang karena tersisihkan oleh zaman terlebih anak muda sunda sekarang mungkin lebih cenderung menyukai budaya luar. sedikit mengenal kendang pencak.[1]
Tari&IbingPencakSilat
Salah satu aspek yang tidak kalah penting dalam pencak silat adalah aspek seni pencak silat, yang lebih populer di Jawa Barat dengan sebutan ibing namun tidak sedikit orang menyebut aspek seni pencak silat ini dengan istilah tari pencak silat padahal dalam kenyataan yang sebenarnya bahwa istilah ibing pencak silat dengan istilah tari pencak silat mempunyai pengertian yang berbeda. Ibing Pencak Silat mempunyai pengertian yang lebih mendalam dibanding tari pencak silat, karena dalam ibing pencak silat selain ada unsur keindahan gerak di dalamnya, mempunyai tujuan akhir menjatuhkan lawan, sehingga dalam ibing pencak silat unsur beladirinya lebih menonjol.Sedangkan istilah tari lebih ditekankan pada unsur keindahannya saja tidak ada unsur beladirinya, seperti tari-tarian yang sering kita lihat.Oleh karena itu rasanya kurang tepat apabila pencak silat disebut sebagai tari pencak silat, sebab pada umumnya para ahli pencak silat di Jawa Barat menyebut seni pencak silat dengan sebutan ibing pencak silat bukan tari pencak silat.
Pada mulanya pencak silat lahir karena kebutuhan masyarakat untuk mempertahankan diri, dapat dipahami kalau aspek yang menonjol adalah aspek beladiri.Namun pada kurun waktu tertentu, disebabkan situasi politik pada saat itu (zaman penjajahan Belanda) yang tidak begitu respek terhadap beladiri pencak silat, maka pengembangan pencak silat beralih dari aspek beladiri ke aspek seni.Hal ini merupakan salah satu taktik dari para pendekar pencak silat untuk tetap melestarikan pencak silat.Padahal jika diperhatikan lebih seksama, justru dalam seni pencak silattersembunyi kaidah beladiri pencak silat.
Di Jawa Barat, di samping dikenal dengan aspek beladirinya, yang lebih dikenal dengan sebutan buah atau eusi, dikenal pula aspek pencak silat seni yang disebut kembang atau ibing pencak silat, sehingga apabila mendengar kata “pencak” yang terbayang oleh masyarakat Jawa Barat bukanlah suatu sistem pembelaan diri, melainkan suatu seni ibing pencak silat yang diambil dari gerak serangan dan belaan.
Ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan dalam ibing pencak silat, antara lain:
Pertama, unsur kekayaan gerak (wiraga) yaitu kekayaan gerak atau jurus-jurus yang dimiliki oleh seorang pesilat selama belajar di perguruannya, sehingga penampilannya menjadi tidak monoton atau membosankan apabila tampil di atas pentas (terutama dalam pertandingan seni pencak silat), tetapi apabila dalam kaulan (spontanitas) pada acara hajatan unsur kekayaan geraknya tidak begitu diperhatikan pesilat yang penting pesilat mampu memperagakan gerakannya dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah pencak silat karena tidak terikat oleh sistem penilaian dari juri seperti dalam pelaksanaan pertandingan pencak silat seni.
Kedua, unsur irama (wirahma) atau musik, unsur inilah yang membedakan aspek seni dengan aspek yang lain dalam pencak silat. Gendang Pencak adalah merupakan sejenis alat musik tradisional yang biasa dipakai mengiringi pesilat yang tampil di atas panggung atau pentas dan alat tradisional ini sering digunakan dalam pertandingan pencak silat seni dan acara khitanan atau acarakesenian daerah lainnya, daerah – daerah yang masih mempergunakan peralatan tradisional ini di antaranya, daerah Bogor, Sukabumi, Bandung, Cianjur, Garut, dan banyak lagi daerah lainnya di Jawa Barat.
Seperangkat peralatan pengiring seni pencak silat atau lebih dikenal dengan nama kendang pencaksilat adalah:
1.      Gendang induk, (Kendang indung)
2.      Gendang anak, (kendang anak)
3.      Kulanter (kendang kecil)
4.      Terompet (tarompet)
5.      Goong (Gong)
Gendang pencak dimainkan oleh 4 (empat) orang penabuh (nayaga/wiyaga).Mereka mempunyai tugas masing-masing dalam pelaksanaannya sehingga gendang pencak silat mempunyai nilai seni kedaerahan yang khas dan selain itu mempunyai nilai keindahan, etika, dan estetika. Adanya keserasian dari irama gendang, terompet, dan gong yang mengeluarkan bunyi tersendiri membuat orang yang mendengarnya menjadi kagum apalagi apabila irama ini sambil dihayati, dinikmati, dan dirasakan akan memiliki nilai seni yang sangat tinggi. Ada beberapa kelebihan dari penabuh kendang pencak silat yang sudah berpengalaman selain mampu mengiringi ibing pencak silat yang sudah dirancang sebelumnya, ia mampu mengiringi gerakan-gerakan lain yang tidak dirancang sebelumnya atau gerakan beladiri lain diluar pencak silat yang ingin mencoba diiringi oleh tabuhan kendang pencak silat, biasanya penabuh mempergunakan irama padungdung karena irama ini dianggapnya lebih mudah bila dibandingkan dengan irama paleredan atau tepak dua. Apabila pesilat yang sedang tampil di atas pentas tiba-tiba melakukan kesalahan maka iramanya tidak akan cocok dengan gerakan yang ditampilkan, dan yang melihat akan menilai bahwa penampilan pesilat tadi belum paham dengan irama gendang pencak yang mengiringinya. Oleh karena itu, seorang pesilat seni sebelum tampil di atas pentas perlu latihan lebih dahulu dengan tekun dan serius serta harus peka terhadap gerakan – gerakan yang akan ditampilkannya di atas pentas serta diwajibkan memperhatikan patokan-patokan irama ibing pencak silat yang sudah ada, misalnya ibing paleredan, tepak dua, tepak tiga, padungdung, dan lain sebagainya.
Ketiga, unsur penjiwaan gerak (wirasa) yaitu salah satu unsur yang sangat penting dimiliki oleh seorang pesilat karena penjiwaan gerak ini sulit dipelajari dan dipahami pesilat di samping memerlukan waktu yang cukup lama.Penjiwaan gerak merupakan salah satu unsur yang mempunyai nilai seni beladiri tinggi dalam aspek pencak silat seni.Oleh karena itu, pesilat dituntut harus menguasai arti dan makna gerak pencak silat yang sebenarnya, serta mengerti maksud dan tujuan dari jurus-jurus dan teknik-teknik pencak silat yang dipelajarinya.
Di samping unsur-unsur tersebut di atas, ada faktor pendukung lainnya yang tidak bisa dipisahkan dari aspek seni pencak silat, antara lain pakaian pencak silat, pakaian pencak silat di Jawa Barat umumnya disebut pangsi, pangsi dipakai oleh seorang pesilat pada waktu pentas (tampil) dalam pertandingan, latihan, ujian kenaikan tingkat, dan pada upacara-upacara tertentu. Tokoh-tokoh pencak silat biasanya memakai pangsi warna hitam dengan ikat kepala barangbang semplak atau peci, ikat pinggang kulit atau kain sarung, namun sekarang pakaian pencak silat sudah dikemas sedemikian rupa disesuaikan dengan kebutuhan, termasuk warna pakaian tidak selalu hitam-hitam, begitupun dalam sabuk (ikat pinggang) disesuaikan dengan tingkatan masing-masing, terutama dalam pertandingan pencak silat seni.

Sejarah dan perkembangannya
Pencak silat sebagai bagian dari kebudayaan bangsa Indonesia berkembang sejalan dengan sejarah masyarakat Indonesia.Dengan aneka ragam situasi geografis dan etnologis serta perkembangan zaman yang dialami oleh bangsa Indonesia, Pencak Silat dibentuk oleh situasi dan kondisinya. Kini Pencak Silat kita kenal dengan wujud dan corak yang beraneka ragam, namun mempunyai aspek-aspek yang sama.
Pencak Silat merupakan unsur-unsur kepribadian bangsa Indonesia yang dimiliki dari hasil budi daya yang turun temurun.Sampai saat ini belum ada naskah atau himmpunan mengenai sejarah pembelaan diri bangsa Indonesia yang disusun secara alamiah dan dapat dipertanggung jawabkan serta menjadi sumber bagi pengembangan yang lebih teratur.
Hanya secara turun temurun dan bersifat pribadi atau kelompok latar belakang dan sejarah pembelaan diri inti dituturkan.Sifat-sifat ketertutupan karena dibentuk oleh zaman penjajahan di masa lalu merupakan hambatan pengembangan di mana kini kita yang menuntut keterbukaan dan pemassalan yang lebih luas.
A. Perkembangan pada zaman sebelum penjajahan Belanda
Nenek moyang kita telah mempunyai peradaban yang tinggi, sehingga dapat berkembang menjadi rumpun bangsa yang maju.Daerah-daerah dan pulau-pulau yang dihuni berkembnag menjadi masyarakat dengan tata pemerintahan dan kehidupan yang teratur.Tata pembelaan diri di zaman tersebut yang terutama didasarkan kepada kemampuan pribadi yang tinggi, merupakan dasar dari sistem pembelaan diri, baik dalam menghadapi perjuangan hidup maupun dalam pembelaan berkelompok.
Para ahli pembelaan diri dan pendekar mendapat tempat yang tinggi di masyarakat. Begitu pula para empu yang membuat senjata pribadi yagn ampuh seperti keris, tombak dan senjata khusus. Pasukan yang kuat di zaman Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit serta kerajaan lainnya di masa itu terdiri dari prajurit-prajurit yang mempunyai keterampilan pembelaan diri individual yang tinggi.Pemukupan jiwa keprajuritan dan kesatriaan selalu diberikan untuk mencapai keunggulan dalam ilmu pembelaan diri.Untuk menjadi prajurit atau pendekar diperulan syarat-syarat dan latihan yang mendalam di bawah bimbingan seorang guru.Pada masa perkembangan agama Islam ilmu pembelaan diri dipupuk bersama ajaran kerohanian.Sehingga basis-basis agama Islam terkenal dengan ketinggian ilmu bela dirinya.Jelaslah, bahwa sejak zaman sebelum penjajahan Belanda kita telah mempunyai sistem pembelaan diri yang sesuai dengan sifat dan pembawaan bangsa Indonesia.
B. Perkembangan Pencak Silat pada zaman penjajahan Belanda
Suatu pemerintahan asing yang berkuasa di suatu negeri jarang sekali memberi perhatian kepada pandangan hidup bangsa yang diperintah.Pemerintah Belandan tidak memberi kesempatan perkembangan Pencak Silat atau pembelaan diri Nasional, karena dipandang berbahaya terhadap kelangsungan penjajahannya.Larangan berlatih bela diri diadakan bahkan larangan untuk berkumpul dan berkelompok.Sehingga perkembangan kehidupan Pencak Silat atau pembelaan diri bangsa Indonesia yang dulu berakar kuat menjadi kehilangan pijakan kehidupannya.Hanya dengan sembunyi-sembunyi dan oleh kelompok-kelompok kecil Pencak Silat dipertahankan.Kesempatan-kesempatan yang dijinkan hanyalah berupa pengembangan seni atau kesenian semata-mata masih digunakan di beberapa daerah, yang menjurus pada suatu pertunjukan atau upacara saja.Hakekat jiwa dan semangat pembelaan diri tidak sepenuhnya dapat berkembang.Pengaruh dari penekanan di zaman penjajahan Belanda ini banyak mewarnai perkembangan Pencak Silat untuk masa sesudahnya.

C. Perkembangan Pencak Silat pada pendudukan Jepang
Politik Jepang terhadap bangsa yang diduduki berlainan dengan politik Belanda.Terhadap Pencak Silat sebagai ilmu Nasional didorong dan dikembangkan untuk kepentingan Jepang sendiri, dengan mengobarkan semangat pertahanan menghadapi sekutu.Di mana-mana atas anjuran Shimitsu diadakan pemusatan tenaga aliran Pencak Silat.Di seluruh Jawa serentak didirkan gerakan Pencak Silat yang diatur oleh Pemerintah.Di Jakarta pada waktu itu telah diciptakan oleh para pembina Pencak Silat suatu olarhaga berdasarkan Pencak Silat, yang diusulkan untuk dipakai sebagai gerakan olahraga pada tiap-tiap pagi di sekolah-sekolah. Usul itu ditolak oleh Shimitsu karena khawatir akan mendesak Taysho, Jepang. Sekalipun Jepang memberikan kesempatan kepada kita untuk menghidupkan unsur-unsur warisan kebesaran bangsa kita, tujuannya adalah untuk mempergunakan semangat yang diduga akan berkobar lagi demi kepentingan Jepang sendiri bukan untuk kepentingan Nasional kita.
Namun kita akui, ada juga keuntungan yang kita peroleh dari zaman itu. Kita mulai insaf lagi akan keharusan mengembalikan ilmu Pencak Silat pada tempat yang semula didudukinya dalam masyarakat kita.
D. Perkembangan Pencak Silat pada Zaman Kemerdekaan
Walaupun di masa penjajahan Belanda Pencak Silat tidak diberikan tempat untuk berkembang, tetapi masih banyak para pemuda yang mempelajari dan mendalami melalui guru-guru Pencak Silat, atau secara turun-temurun di lingkungan keluarga.Jiwa dan semangat kebangkitan nasional semenjak Budi Utomo didirikan mencari unsur-unsur warisan budaya yang dapat dikembangkan sebagai identitas Nasional.Melalui Panitia Persiapan Persatuan Pencak Silat Indonesia maka pada tanggal 18 Mei 1948 di Surakarta terbentuklah IPSI yang diketuai oleh Mr. Wongsonegoro.Program utama disamping mempersatukan aliran-aliran dan kalangan Pencak Silat di seluruh Indonesia, IPSI mengajukan program kepada Pemerintah untuk memasukan pelajaran Pencak Silat di sekolah-sekolah. Usaha yang telah dirintis pada periode permulaan kepengurusan di tahun lima puluhan, yang kemudian kurang mendapat perhatian, mulai dirintis dengan diadakannya suatu Seminar Pencak Silat oleh Pemerintah pada tahun 1973 di Tugu, Bogor. Dalam Seminar ini pulalah dilakukan pengukuhan istilah bagi seni pembelaan diri bagnsa Indonesia dengan nama "Pencak Silat" yang merupakan kata majemuk. Di masa lalu tidak semua daera. 



 http://youtu.be/hKQNeeyrcOM


* MahasiswaPendidikansejarah STKIP SetiabudhiRangkasbitung (4322310030012)
[1] Di akses oleh Deri Priana di http: aang nurochman.blogspot.com,   Tanggal,17-04-13, 10.00

UAS SEJARAH KEBUDAYAAN



KESENIAN RAMPAK BEDUG BANTEN

DERI PRIANA

Seni rampak bedug adalah kesenian tradisional masyarakat pandeglang Banten, seni rampak bedug merupakan titik kulminasi estetik dari tradisi ngadu bedug yang biasa dilakukan warga pada perayaan hari raya iedul fitri atau iedul adha. Perangkat peralatan yang digunakan meliputi : satu set bedug kecil selaku pengatur irama, tempo dan dinamika, sedangkan bedug besar sebagai bass, sementara melodi hanya berasal dari lantunan shalawatan yang dilakukan sambil menabuh. Pola tubuh yang biasa mereka sebut dengan lagu diantaranya :pingping cak-cak, nangtang, celementre, rurudatan, antingsela, sela gunung, kelapa samanggar, dan lain-lain.[1]

A.          Pengertian Rampak Bedug

Kata " bedug ' sedah tidak asing lagi bagi telinga bangsa Indonesia. Bedug hampir terdapat disetiap mesjid, sebagai alat atau benda informasi datangnya waktu sholat 5 waktu. Demikian juga dengan seni bedug semacam ngabedug atau ngadulag sudah akrab ditelinga kita. Tapi " Rampak Bedug " akan terasa asing , sebab " Rampak Bedug " hanya tedapat di daerah Banten. Kata " Rampak " mengandung arti " serempak ", juga " banyak " jadi " Rampak Bedug " adalah seni bedug dengan menggunakan waditra berupa " banyak " bedug yang di tambuh secara " serempak " sehingga menghasilkan irama khas yang enak didengar.

B.           Maksud dan Fungsi Rampak Bedug

Rampak bedug pertama kali dimaksudkan untuk menyambut bulan suci Ramadhan, persis seperti seni ngabedug dan ngadulag. Tetapi karena merupakan suatu kreasi seni yang genial dan mengundang perhatian penonton, maka seni rampak bedug ini berubah menjadi suatu seni yang layak jual.Rampak Bedug selain berfungsi religi yakni menyemarakkan Bulan Suci Ramadhan dengan alat - alat memang dirancang para ulama juga memiliki fungsi rekreasi/ hiburan.

C.          Pemain Rampak Bedug dan Fungsinya

Dimasa yang lalu pemain rampak bedug semuanya laki - laki. Tapi, sekarang sama halnya dengan banyak seni lainnya terdiri dari laki - laki dan perempuan. Jumlah pemainnya sekitar 10 orang, laki - laki 5 orang dan perempuan 5 orang. Adapun fungsi masing - masing pemain sebagai berikut :
  1. Pemain laki - laki sebagai penabuh bedug sekaligus kendang
  2. Pemain perempuan sebagai penabuh bedug
  3. Baik laki - laki maupun perempuan sekaligus sebagai penari
D.          Waditra Rampak Bedug dan Fungsinya
  1. Bedug besar, berfungsi sebagai bass, yang memberi rasa puas ketika mengakhiri suatu bait syair dari lagu
  2. Ting tir, terbuat dari batang pohon kelapa berfungsi sebagai penyelaras irama lagu bernuansa spiritual ( takbiran,shalawatan,marhaban, dll )
  3. Anting caram dan anting karam, terbuat dari pohon jambe dan dililiti kulit gendang, berfungsi sebagai pengiring lagu dan tari
E.     Busana yang dipakai Pemain Rampak Bedug

Busana yang di pakai oleh pemain Rampak Bedug adalah pakaian muslim dan muslimah yang disesuaikan dengan perkembangan zaman dan unsur kedaerahan. Pemain laki - laki, misalnya mengenakan pakaian pesilat lengkap dengan sorban khas Banten. Adapun pemain perempuan mengenakan pakaian khas tari - taria tradisional, tapi bercorak kemoderan dan relative religius, misalnya menggunakan rok panjang bawah lutut dari bahan batik dengan warna dasar dan didalamnya mengenakan celana panjang warna merah sejenis celana panjang pesilat. Bajunya tangan panjang yang dikeluarkan dan diikat dengan ikat pingggang besar . Adapun rambutnya menenakan sejenis sanggul bunga yang terbuat dari rajutan benang semacam penutup kepala bagian belakang.









http://youtu.be/EpheoiOKzzI


* Mahasiswa Pendidikan Sejarah STKIP Setia Budhi Rangkasbitung (4322310030012)
[1]  baduybantenheritage.blogspot.com, bantenblog.blogspot.com/.../rampak-bedug.html

UAS SEJARAH KEBUDAYAAN



KESENIAN TERBANG GEDE

DERI PRIANA

Pengertian
Kesenian ini dinamakan sesuai dengan waditra yang digunakan yaitu terbang.istilah terbang memiliki arti yang variatif di antaranya adalah terbang merupakan waditra rbuat dari kayu yang melingkar berbentuk silinder berdiameter 40-60 cm dengan tinggi 10-15 cm, bentuknya mirip rebana. Bagian mukanya ditutup dengan kulit.Istilah terbang pun diartikan ngapung, hal tersebut dikarenakan ada anggapan sederhana bahwa karena Allah swt.berada di langit ke tujuh maka agar sampai ke sana harus terbang (iigapung). Realisasinya disimbolkan dengan menggunakan alat musik yang dinamakan genjring besar (terbang).Maksud simbol tersebut berarti menghubungkan batiniah antara manusia dengan Allah swt yang menguasai dan menciptakan alam beserta isinya.[1]

FungsiKesenian
Kesenian Terbang Gede memiliki fungsi sebagai sarana dakwah, hiburan, dan upacara ritual.Fungsi ritual hanya digunakan oleh masyarakat yang masih mempercayainya, adapun fungsi hiburan digunakan oleh masyarakat luas pada acara perkawinan, khitanan, dan upacara kenegaraan.Pada mulanya Kesenian Terbang Gede digunakan dalam rangka penyebaran agama Islam, namun kemudian berkembang menjadi upacara ritual seperti ruwatan rumah, syukuran bayi, dan hajat bumi.Selain itu digunakan pula untuk upacara nadar dan syukuran panen. Dalam upacara ini digunakan sesajian beserta macam-macam aturannya seperti tidak boleh hari Jumat (larangan poedan kala), tempatnya tidak boleh sembarangan misalnya harus di ruangan yang dilengkapi sesajian.

Sejarah Perkembangan
Kesenian Terbang Gede merupakan kesenian yang tumbuh dan berkembang pada masa penyebaran agama Islam Di Banten.Pada waktu itu, agama Islam dipandang sebagai agama baru di kalangan masyarakat.Oleh karena itu untuk pendekatan maka diciptakanlah alat musik Terbang Gede. Kesenian Rakyat ini dibawa oleh seorang wali yang bernama syarif Hidayatullah dengan gelar Sunan Gunung Jati, hidupnya menyebarkan agama Islam di Jawa Barat dan Banten dngan di Bantu oleh murid-muridnya.Pada tahun 1450-1500, sekitar abad ke XV masyarakat Jawa Barat dan Banten masih beragama Hindu. Sunan Gunung Jati mengutus lima orang dari Cirebon, yaitu : Sacapati, Madapati, Jayapati, Margapati, dan Wargakusumah untuk menyebarkan agama Islam, salah satunya dengan cara pementasan kesenian meniru kesenian yang berkembang di Tanah Makkah.
Kelima utusan kemudian membuat alat musik genjring yang berasal dari potongan kayu mirip yang ada di Tanah Makkah.Alat musik tersebut dinamakan Terbang.Kemudian dibuatlah limabuah terbang sebagai symbol dari rukun Islam yakni Syahadat, Salat, Zakat, Puasa, Ibadah haji.Karena merasa kurang sempurna, maka dibuatlah satu buah kendang besar sebagai pelengkap.
Selanjutnya cucu Sunan Gunung Jati yang bernama Maulana Yusuf pada tahun 1570-1580, dan oleh puteranya yang bernama Abdulfathah (Sultan Ageng Tirtayasa), terbang ini dijadikan juga sebagai alat penyebaran agama Islam. Dan kesenian ini dapat diterima dan tumbuh berkembang di tengah-tengah masyarakat karena pada saat itu para pemain tidak mengharapkan imbalan apa-apa selain berkah dan pahala dari Allah swt.
Kesenian ini jadi santapan utama masyarakat Banten pada saat peringatan hari-hari besar Islam seperti Idul Fitri, Idul Adha, Muharam, Ekahan, Muludan, dan Rajaban.Dalam pertunjukan terbang ini terdapat lagu-lagu yang mengiringi seperti syair solawat nabi pada saat Ekahan yaitu pada fase menggunting rambut dan acara khitanan.Syair bilaia pada saat perkawinan yaitu ketika pengantin laki-laki memberikan kue kepada pengantin perempuan. Syair fakam dilantunkan pada saat Maulid Nabi Muhammad saw. Syair turu lare dibawakan pada upacara pengiring pengantin, dan syair nabi salawe dilantunkan pada waktu ngaruwat rumah yang baru dibangun.
Pemain dan Waditra Pemain Kesenian Terbang Gede ini terdiri atas tiga kelompok yaitu saechu, pangrawit, dan vokalis.Saechu adalah pimpinan rombongan yang mengatur jalannya acara.Pangrawit terdiri atas 6 orang laki-laki dan 5 orang sebagai penabuh terbang serta 1 orang penabuh gendang. Penabuh "terbang gede", alat ini berfungsi sebagai goong; penabuh "sela", alat ini berfungsi sebagai gendang; penabuh "penganak" berfungsi sebagai tingtit; penabuh "kempul" berfungsi sebagai kempul; penabuh "koneng ", alat ini berfungsi sebagai kecrek Adapun vokalis terdiri atas laki-laki yang berjumlah 7 sampai 15 orang, dan rata-rata berusia lanjut. Syarat menjadi vokalis harus memiliki dasar kejiwaan yang kuat dan akhlak mulia.
Jumlah waditra atau alat musik Kesenian Terbang Gede ada lima buah ditambah gendang yang terdiri atas satu buah gendang dan dua buah kulanter. Rinciannya adalah sebagai berikut: terbang kempring yaitu terbang yang memiliki suara kecil dengan ukuran diameter 56 cm dan tinggi 11 cm. Terbang gede yaitu terbang yang memiliki suara lebih rendah dari terbang kempring dengan ukuran 57 cm dan tingginya 42 cm atau 23 cm.
Terbang gemruh yaitu terbang yang memiliki suara lebih rendah dari terbang gede dengan ukuran diameter 50 cm dan tinggi 12 cm. Terbang talingtik yaitu terbang yang memiliki suara lebih kecil dari suara terbang kempring dengan ukuran diameter 52 cm dan tinggi 14 cm. Dan Terbang goong dengan ukuran diameter 48 cm. dan tinggi 12 cm. Pakaian yang digunakan para pemain Kesenian Terbang Gede tergantung pada acaranya, misalnya dalam acara ritual menggunakan pakaian sehari-hari, adapun jika menghadapi perayaan Hari Kemerdekaan RI mereka menggunakan pakaian yang terdiri atas kampret warna putih, celana panjang warna gelap, ikat kepala dari kain leman, dan kain poleng setengah betis.

Pola Permainan
Pola permainan Kesenian Terbang Gede dibagi menjadi dua jenis, yaitu pola permainan pada upacara ritual dan untuk hiburan.Pada acara hiburan disediakan sesajian yang tidak selengkap pada acara ritual.Setelah sesajian tersedia maka pertunjukkan pun dimulai.Para pemain yang berjumlah 15 sampai 20 orang keluar dengan formasi dua baris sejajar. Barisan depan terdiri atas para penabuh, pedzikir, dan penari. Para penabuh berada di tengah barisan, sementara para pedzikir dan penari berada di sebelah kiri dan kanannya.Adapun barisan belakang terdiri atas para vokalis.
Serempak tetabuhan dibunyikan secara bersama-sama sebagai tanda "bubuka" pembukaan.Setelah pembukaan dilanjutkan dengan instrument diikuti pelantunan syair baik yang berbahasa Arab maupun bahasa Daerah/Jawa.Para pemain pun ikut bernyanyi dan berdzikir secara bersama-sama.
Pelaksanaan pertunjukkan dapat dilakukan di alam terbuka, halaman, rumah, dan di serambi Masjid.

Para Tokoh Penyebar
Kesenian Terbang Gede berkembang dan menyebar secara merata di Banten, terutama di Serang dan Pandeglang. Di Pandeglang terdapat perkumpulan kesenian ini yang bernama Siti Denok dipimpin oleh H. Sarikah, adapun di Serang namaperkumpulannya Sinar Wangi yang dipimpin oleh Abdullah.




               

                   



*Mahasiswa Pendidikan Sejarah STKIP Setia Budhi Rangkasbitung (4322310030012)
[1] Masduki Aam dkk. 2005 Kesenian Tradisional Provinsi Banten Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung